POJOKCERITA

Peristiwa

Showbiz

Foto

Video

Monday, January 26, 2026

Thursday, January 22, 2026

Digitalisasi yang Salah Alamat; Ketika Tujuan Kecepatan Proses Berubah Menjadi Pelimpahan Tanggung Jawab

Digitalisasi seakan menjadi ‘dewa’ di mana-mana. Semua orang berlomba berbicara tentang digitalisasi yang kerap diposisikan sebagai jawaban atau solusi ampuh atas berbagai persoalan organisasi modern, seperti proses yang lambat, birokrasi yang berbelit, hingga beban administratif yang menyita energi karyawan.

Tuesday, January 20, 2026

Mempertanyakan Efektivitas Hasil Outbound/Team Building; Kerja Sama Tidak Bisa Diciptakan dalam Sehari!

Dalam dunia korporasi modern, pelatihan outbound atau team building sering dianggap atau diposisikan sebagai solusi instan atas problem kerja sama, komunikasi, dan harmonisasi antar karyawan. Konflik internal, rendahnya kolaborasi lintas divisi, hingga lemahnya semangat kebersamaan, kerap dijawab dengan satu resep yang sama: mengirim karyawan mengikuti pelatihan di luar kantor, bermain permainan kelompok, menyeberangi jembatan tali, atau menyelesaikan tantangan simulatif yang dirancang menyerupai kerja tim.

Thursday, January 15, 2026

Monday, January 12, 2026

Stop Menormalisasi Membandingkan Hidup dengan Orang Lain

Mungkin kita pernah mendengar ada teman atau orang lain yang nyeletuk, “Enak ya jadi kamu, punya gaji besar dan jabatan tinggi. Apa pun yang diinginkan tinggal beli.” Atau, “Enak ya jadi kamu, bisa bertemu banyak orang.” Atau, “Enak ya kamu, punya suami berpenghasilan ratusan juta. Kamu cukup duduk dan ongkang-ongkang kaki di rumah bisa beli barang-barang online sebebas-bebasnya.”

Ucapan-ucapan seperti itu sering kali meluncur dengan begitu mudahnya dari lisan kita yang tanpa disadari dapat menghancurkan keimanan sebagai akibat kurangnya rasa syukur. Parahnya, lontaran bernada ‘ketidakpuasan hidup’ itu kadang justru keluar dari mulut orang yang dalam kesehariannya terlihat religius, sholat sunnahnya berjibun, ngajinya kenceng, dan seterusnya. Sehingga menjadi pertanyaan: sejauh mana ketekunan ibadahnya itu ter-refleksi atau berbanding lurus dengan pengamalan sehari-hari dalam hidup. Seakan tidak ada bekas sama sekali antara ibadah dengan kepasrahan menerima kehidupan. Ibadah hanya seolah menjadi penanda bahwa ia adalah orang terlihat yang lebih baik dalam hal agama. Padahal sesungguhnya ia tidak memahami atau meresapi sampai mendalam bagaimana konsep keimanan yang harus ditegakkan dalam kehidupan nyata. Kita juga sering melupakan sesuatu yang tidak tampak dari kehidupan orang lain. Apa yang tampak lapang di mata manusia, belum tentu lapang di sisi yang menjalaninya. Sebab kebahagiaan dan kesempitan bukanlah semata perkara harta, status, atau jabatan, melainkan ujian yang Allah titipkan kepada hamba-Nya.

Maka guna membuktikan bahwa iman itu sudah melekat dalam dada, berhentilah untuk membandingkan takdir seseorang dengan takdir yang lain. Yang terlihat sebagai sebuah “nikmat” bisa jadi di balik itu terdapat sejumlah ujian kesabaran yang panjang. Bisa jadi seseorang yang engkau katakan hidupnya “enak” sebenarnya tengah memikul beban yang tak sanggup ia pikul. Ia hanya memilih untuk tidak banyak berkeluh kesah kepada manusia. Bisa jadi ia sedang menahan letih, menyimpan air mata, atau berjuang bertahan di tengah badai yang tak diketahui kapan selesainya. Kalau pun ada orang lain yang dikatakan lebih sukses dibanding kita, bisa jadi ia telah memulai perjuangannya dari awal dengan begitu berat. Artinya apa yang ia raih sekarang memang merupakan hasil dari keringat kerja keras dan ketekunannya dari dulu. Sementara kita yang tidak bisa melakukan usaha yang sama hanya bisa merasakan iri dengki yang melahirkan ketidaktenangan hidup. 

Lisan sendiri memang menjadi suatu persoalan yang kelihatannya sepele namun memiliki dampak yang besar dalam menentukan level atau tingkat keimanan seseorang. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam yang berarti bahwa jika kita tidak bisa berbicara sesuatu yang bermanfaat maka diam adalah pilihan yang lebih baik untuk menghindari dosa dan keburukan karena setiap ucapan akan dihisab di akhirat kelak. Jika di dalam hati terlintas rasa iri melihat kehidupan orang lain, kembalikanlah semuanya kepada syukur. Sebab syukur adalah kunci bertambahnya nikmat, sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu kufur, maka sungguh azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim: 7).

Syukur bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap melihat kasih sayang Allah di balik setiap keadaan. Bahkan dalam rutinitas yang melelahkan sekalipun selalu ada tanda-tanda nikmat Allah jika hati mau merenung. Dan ingatlah, kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang tersembunyi di balik kehidupan seseorang. Bisa jadi di balik “kesuksesan” yang kita lihat dalam pandangan mata, ia sedang berjuang merawat orang tuanya yang sakit, menanggung utang yang tak kunjung selesai, menghadapi pasangan hidup yang keras kepala, atau menghadapi tingkah laku anak-anaknya yang sulit dikendalikan. Bisa juga ia sedang berjuang mempertahankan kehidupan rumah tangganya yang nyaris hancur berantakan, memperjuangkan impian-impian masa depan yang masih panjang, atau menahan rindu dengan keluarganya karena jarak dan keadaan.

Maka janganlah tergesa-gesa menilai hidup kita lebih rendah dibanding orang lain. Setiap hamba sedang berjalan di jalannya masing-masing dengan ujian yang telah Allah atur. Tugas kita bukan membandingkan namun alangkah baiknya saling mendoakan. Tidak perlu lagi mengomentari takdir namun lebih baik memperbaiki rasa syukur dan mempertebal kesabaran dalam menjalani ketetapan-Nya.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga lisan kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dalam kelapangan rizki serta bersabar dalam kesempitan. Aamiin. 

membandingkan hidup

Friday, January 9, 2026

Proaktivitas Karyawan; Antara Idealisme dan Distorsi Akuntabilitas

Pendahuluan

Dalam literatur manajemen dan perilaku organisasi, sikap proaktif karyawan sering diposisikan sebagai salah satu nilai keunggulan sikap kerja di perusahaan atau organisasi. Karyawan yang proaktif dipandang memiliki inisiatif tinggi, berorientasi solusi, serta mampu bertindak melampaui deskripsi kerja formal. Sebaliknya, sikap pasif kerap direduksi sebagai indikator rendahnya komitmen dan lemahnya etos kerja.

Namun, pengagungan terhadap teori proaktivitas sebagai norma universal menyimpan persoalan konseptual yang tidak sederhana. Ketika teori ini diterapkan secara normatif tanpa kerangka akuntabilitas yang jelas, proaktivitas justru berpotensi dapat mengubah nilai organisasi yang konstruktif menjadi instrumen legitimasi untuk mengalihkan tanggung jawab. Artikel ini mengajukan kritik akademik terhadap praktik tersebut dengan menegaskan bahwa penekanan berlebihan pada proaktivitas justru dapat melemahkan pembentukan karakter karyawan lain yang seharusnya lebih responsif dan bertanggung jawab yang ujung-ujungnya dapat merusak tatanan berorganisasi yang sehat dan pada akhirnya menghancurkan sistem kerja itu sendiri. Untuk memberi contoh dapat dilihat pada situasi seperti ini: ada seorang karyawan perusahaan yang telah mengirimkan email atas suatu persoalan yang harus diberikan feedback atau respon dari karyawan lain. Namun respon tersebut tidak segera diterima. Ia pun melaporkan kepada atasan atas hal itu. Respon yang didapatkan dari atasannya justru dirinya dipersalahkan karena dianggap tidak bersikap proaktif untuk mengingatkan atau mereminder rekan kerjanya itu. Sementara di sisi lain, tidak ada peringatan atau warning apapun yang diberikan kepada rekan kerja tersebut. Ia justru aman-aman saja, padahal kesalahan utama justru ada padanya yang tidak merespon email dengan baik.    

Proaktivitas dalam Kerangka Teori Organisasi

Secara teoritis, proaktivitas merujuk pada perilaku individu yang secara sadar mengambil inisiatif untuk mempengaruhi lingkungan kerja (Crant, 2000). Namun, literatur lain juga menegaskan bahwa perilaku sistem kerja yang adil dan sehat tidak dapat dilepaskan dari peran, mekanisme kontrol, dan pembagian tanggung jawab yang proporsional. Proaktivitas bukanlah substitusi bagi sistem melainkan pelengkap. Ketika sistem akuntabilitas lemah, tuntutan proaktivitas justru hanya berfungsi sebagai ‘normative pressure’ yang dapat menimbulkan iklim kerja yang tidak sehat.

Distorsi Praktik: Proaktivitas sebagai Alat Pengalihan Tanggung Jawab

Dalam praktik organisasi sering dijumpai fenomena di mana karyawan yang telah menyelesaikan dan menyerahkan pekerjaannya kepada karyawan lain tetap dipersalahkan ketika proses selanjutnya mengalami stagnasi. Argumen yang digunakan relatif seragam: individu tersebut dianggap tidak cukup proaktif karena tidak terus-menerus melakukan follow-up. Logika ini bermasalah secara konseptual. Ketika suatu tugas telah dilimpahkan dan diterima oleh pihak lain, locus of responsibility secara formal seharusnya telah berpindah. Menuntut pihak sebelumnya untuk tetap bertanggung jawab atas progres berikutnya merupakan bentuk pengingkaran terhadap prinsip dasar delegasi. Dalam kerangka ini, proaktivitas tidak lagi dipahami sebagai inisiatif sukarela bernilai tambah, melainkan sebagai kewajiban implisit yang tidak memiliki batas. Akibatnya, kegagalan sistemik disederhanakan menjadi kegagalan individu, sementara akar masalah struktural diabaikan.

Implikasi terhadap Pembentukan Karakter dan Budaya Kerja

1. Erosi ‘Sense of Responsibility’

Ketika individu yang memegang tugas tidak pernah menjadi subjek utama evaluasi kinerja maka rasa tanggung jawab personal akan tereduksi. Organisasi secara tidak langsung melatih karyawan untuk bersikap reaktif dan menunggu dorongan eksternal. Dalam jangka panjang, hal ini membentuk karakter kerja yang bergantung pada tekanan, bukan pada kesadaran profesional.

2. Disfungsi Akuntabilitas Organisasi

Akuntabilitas mensyaratkan kejelasan relasi antara tugas, wewenang, dan konsekuensi. Penerapan proaktivitas yang keliru justru memutus relasi ini. Tidak jelas siapa yang harus dimonitor, siapa yang harus dikoreksi, dan siapa yang bertanggung jawab atas keterlambatan atau kegagalan pekerjaan. Organisasi yang kehilangan akuntabilitas pada dasarnya sedang merusak fondasi tata kelola internalnya sendiri.

3. Ketidakadilan Struktural dan Potensi Demotivasi

Karyawan yang telah menegakkan disiplin dan bertanggung jawab cenderung menanggung beban tambahan berupa pengawasan informal terhadap rekan kerja lain. Sebaliknya, individu yang pasif relatif terlindungi oleh narasi proaktivitas kolektif. Kondisi ini menciptakan ketidakadilan struktural yang berimplikasi pada menurunnya motivasi, meningkatnya sinisme organisasi, dan melemahnya kepercayaan terhadap pola kerja sama antar karyawan.

Paradoks Sistemik; Ketika yang Aktif Ditekan, yang Pasif Dinormalisasi

Paradoks yang muncul dari sistem semacam ini bersifat destruktif. Organisasi secara tidak sadar menghukum perilaku karywan yang sudah melaksanakan tanggung jawab dengan baik namun menormalisasi kekurangan karyawan lain. Individu yang seharusnya bergerak aktif merespons permintaan justru berada dalam zona aman karena kegagalan selalu dapat dialihkan kepada pihak lain yang dianggap kurang proaktif. Jika praktik ini terus dipertahankan, konsekuensinya bukan hanya akan muncul kelelahan individu (burnout) tetapi juga degradasi kinerja kolektif. Sistem tidak runtuh secara tiba-tiba melainkan terkikis perlahan oleh pembiaran dan distorsi nilai.

Reposisi Konseptual; Proaktivitas dalam Koridor Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Untuk memperbaiki kesalahan sistematis yang masih banyak diterapkan di banyak perusahaan, diperlukan reposisi konseptual yang tegas. Proaktivitas harus ditempatkan sebagai perilaku ‘extra-role behavior', bukan sebagai mekanisme penutup kelemahan sistem. Prinsip yang seharusnya ditegakkan antara lain: (1) Delegasi kerja harus diikuti dengan akuntabilitas yang jelas; (2) Evaluasi kinerja difokuskan pada pemegang tugas, bukan pada pihak yang telah menyelesaikan bagiannya; (3) Proaktivitas dihargai sebagai nilai tambah, bukan dipaksakan sebagai kewajiban tanpa batas. Dengan demikian, organisasi tidak terjebak pada ilusi budaya proaktif tetapi benar-benar membangun budaya bertanggung jawab.

Penutup

Narasi bahwa karyawan tidak boleh pasif dan harus selalu proaktif hanya tampak di permukaan sebagai sesuatu yang bersifat progresif namun berpotensi menjadi regresif apabila diterapkan tanpa kerangka tata kelola yang sehat. Alih-alih memperkuat karakter dan kinerja, narasi ini justru dapat melahirkan budaya kerja yang timpang, tidak adil, dan disfungsional. Organisasi yang matang bukanlah organisasi yang memaksa semua individu untuk terus bergerak tanpa batas peran melainkan organisasi yang menegakkan akuntabilitas secara konsisten, menghargai inisiatif secara proporsional dan berani mengoreksi distorsi nilai. Tanpa itu, proaktivitas hanyalah jargon, dan jargon yang dibiarkan bekerja tanpa sistem yang baik bakal menghancurkan sistem itu sendiri.

Politik kantor

Monday, November 3, 2025

Tuesday, July 1, 2025

Amangkurat II

Sebelum menghembuskan nafasnya, Amangkurat I memerintahkan kepada Raden Mas Rahmat atau Amangkurat II untuk menggantikannya sebagai raja namun keinginan itu ditolak oleh Amangkurat II. Maka Amangkurat I menunjuk Pangeran Puger untuk menggantikan kedudukannya.

Wednesday, June 11, 2025

Amangkurat I

Sultan Agung dari pernikahannya dengan Ratu Kulon memiliki anak bernama Raden Mas Syahwawrat (Pangeran Alit), sedangkan dari pernikahannya dengan Ratu Wetan memiliki anak bernama Raden Mas Sayidin (Amangkurat I).

Sunday, January 19, 2025

Thursday, January 16, 2025

Tuesday, January 14, 2025

Intermezzo

Travel

Teknologi